Tanpa saudara kandungnya Pengetahuan, Akal
(Instrumen berfikir Manusia) bagaikan si miskin yang tak berumah,
sedangkan Pengetahuan tanpa akal seperti rumah yang tak terjaga. Bahkan,
Cinta, Keadilan, dan Kebaikan akan terbatas kegunaannya jika akal tak
hadir (Kahlil Gibran)
Pengetahuan merupakan suatu kekayaan dan
kesempurnaan. Seseorang yang tahu lebih banyak adalah lebih baik kalau
dibanding dengan yang tidak tahu apa-apa (Louis Leahy)
Mengetahui merupakan kegiatan yang menjadikan subjek
berkomunikasi Secara dinamik dengan eksistensi dan kodrat dari “ada”
benda-benda (Sartre)
Dr. Unhar Suharsaputra menulis tentang Manusia, Berfikir dan Pengetahuan yang di terbitkan pada https://uharsputra.wordpress.com/filsafat/manusia-berfikir-dan-pengetahuan-2/ mengemukakan bahwa melalui proses berfikir manusia mampu melakukan perubahan dalam dirinya maupun lingkungannya. Karena memang perubahan itu terjadi sebagian besar merupakan efek dari hasil berfikirnya manusia. Tanpa ada nya pemikiran manusia tidak akan memiliki kedudukan dan makna di muka bumi ini.
Dalam perjalanannya proses berfikirnya manusia bisa kita temukan dalam berbagai hal, baik yang berfikir secara kritis ataupun tidak kritis. Pola semacam ini menunjukkan kepada kita bahwa instrumen berfikirnya manusia itu ada yang aktive dan ada yang tidak aktive. seseorang yang memiliki pola berfikir yang aktive atau kritis adalah Memiliki dorongan yang kuat untuk menemukan kejelasan, ketepatan (presisi), keakuratan, dst, Sangat peka terhadap ide, gagasan, kesimpulan yang mengandung egosentrisme, sosiosentrisme, wishful thinking, dst, Sangat menyadari nilai dan manfaat dari berpikir kritis, baik secara individu maupun secara komunitas, Jujur secara intelektual dengan dirinya, menyadari hal-hal yang tidak dimengerti dan menerima kelemahan-kelemahan diri, Mendengar dengan pikiran-terbuka pada pandangan atau pendapat yang
berlawanan dan menerima kritik terhadap keyakinan dan asumsi-asumsi
mereka, Mendasarkan keyakinan-keyakinannya pada fakta lebih dari kepentingan-diri atau preferensi pribadi, Sadar akan kemungkinan adanya bias dan praduga yang ikut memengaruhi cara mereka memahami dunia, Berpikir independen dan tidak takut berbeda pendapat dengan pendapat kelompok atau masyarakat, Mampu menangkap inti dari suatu isu atau masalah tanpa terperangkap atau dikacaukan oleh detail-detail yang disajikan, Memiliki keberanian intelektual untuk menghadapi dan mengakses
gagasan-gagasan yang benar yang bahkan bertentangan dengan gagasan
atau pendapat mereka sendiri., Mengejar kebenaran dan memiliki keinginan tahu yang tinggi terhadap isu atau masalah, dan Memiliki daya tahan intelektual dalam mengejar insight atau kebenaran di tengah-tengah kesulitan atau hambatan.
Sedangkan manusia yang memiliki kecendrungan yang berpila pikir non kritis atau tidak kritis adalah Sering berpikir dalam cara yang kabur, tidak tepat, dan tidak akurat, Sering jatuh ke dalam dan menjadi pendukung setia egosentrisme,
sosiosentrisme, pemikiran relativistik, asumsi-asumsi yang tak-teruji,
dan wishful thinking, Tidak menyadari nilai dan manfaat dari berpikir kritis, Mengira bahwa dirinya mengetahui lebih dari yang sebenarnya dan menyangkal keterbatasan mereka, Pikirannya bersifat tertutup dan menolak setiap kritik, Sering mendasarkan keyakinan-keyakinannya pada preferensi diri atau kepentingan-diri, Tidak atau kurang menyadari bias-bias atau praduga-praduga mereka sendiri, Cenderung mengikuti saja apa yang dikatakan kelompok atau masyarakat,
mengikuti pendapat atau gagasan orang lain atau kelompok tanpa sikap
kritis, Mudah sekali terperangkap dalam detail-detail dan sulit menangkap esensi dari sesuatu gagasan atau pendapat, Takut dan menolak gagasan atau pendapat yang berbeda dengan gagasan, pendapat, atau keyakinannya, Cenderung “cuek” atau acuh tak acuh terhadap kebenaran, tidak punya cukup cukup rasa ingin tahu, dan Dalam mengejar kebenaran cenderung tidak tahan atau cepat menyerah terhadap berbagai kesulitan dan hambatan yang muncul. (https://kuliahfilsafat.com/2010/03/10/karakteristik-seorang-pemikir-kritis/)
Sementara itu kemampuan manusia untuk mengubah cara berfikir yang non aktive menjadi pola berfikir yang aktive adalah suatu tantangan yang amat berat untuk dilalui. Karena memang pada titik ini adalah kita harus mampu dan mau untuk bisa meninggalkan suatu kebiasaan yang telah menjadi darah daging dalam diri, sehingga ketika dihadapkan pada suatu yang tak lazim dilakukan terjadi pertentangan bathin yang amat sulit untuk di damaikan. Sehingga pada akhirnya muncul siakp apatis dan condong kepada sesuatu yang kurang baik.
- Ibnu Sina (980 -1037 M). manusia adalah makhluk yang mempunyai kesanggupan : 1) makan, 2) tumbuh, 3) ber-kembang biak, 4) pengamatan hal-hal yang istimewa, 5) pergerakan di bawah kekuasaan, 6) ketahuan (pengetahuan tentang) hal-hal yang umum, dan 7) kehendak bebas.
- Ibnu Khaldun (1332 – 1406). Manusia adalah hewan dengan kesanggupan berpikir, kesanggupan ini merupakan sumber dari kesempurnaan dan puncak dari segala kemulyaan dan ketinggian di atas makhluk-makhluk lain.
- Ibnu Miskawaih. Menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang mempunyai kekuatan-kekuatan yaitu : 1) Al Quwwatul Aqliyah (kekuatan berfikir/akal), 2) Al Quwwatul Godhbiyyah (Marah, 3) Al Quwwatu Syahwiyah (sahwat).
Dari pandangan para ahli tersebut nampak jelas bahwa sesungguhnya sesuatu yang membedakan kita dengan makhluk lain adalah berada pada tataran berfikir. Namun di sini para ahli tidak menggaris bawahi kita harus memiliki pola fikir yang non aktive, tidak stagnan dan jangan melampuai batas. Namun manusia itu mempunyai kekuatan kekuatan dan kesanggupan untuk berfikir untuk melakukan suatu perubahan dalam diri maupun di luar diri manusia itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar